Teori dan Praktek itu Berkesinambungan

Dalam realita kehidupan, memang tidak pernah dipisahkan antara teori dan praktek. Dua Hal itu saling erat walau dalam persepsi masyarakat lebih sering memisahkan antara keduanya. Sehingga teori dan praktek menjadi musuh yang sulit bersatu. Agak lebay sih, tapi begitulah nyatanya.

Coba kita lihat di segala aspek. Nyalakan TV, lihat berita yang berkaitan dengan politik. Bisa kita lihat apa yang dibicarakan seperti sastra-sastra yang tak tersentuh orang awam. Seperti teori-teori saja. Dikemukakan oleh para pakar namun segala bentuk pada prakteknya tak kunjung ada. Janji pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan juga masih tebang pilih. Jadi teori dan praktek seperti digunakan secara bergantian. Jika praktek tak sesuai teori ya diwajarkan. Atau memang praktek tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh seperti layaknya teori yang telah dituliskan? Undang-undang dibuat, peraturan dibuat, akhirnya lain jaman, lain pemimpin lain pula teorinya, prakteknya? Jangan ditanya kalau proyek pemerintah sangat sedikit yang bisa kita nikmati manfaatnya.

Lalu ada yang bilang, “teori itu adalah sumber kekuatan pokok untuk menjalankan sebuah praktek, kalau praktek tanpa teori itu ceroboh” yang lainnya mengatakan, “praktek adalah kekuatan penting yang harus dilakukan agar teori dapat terwujud, kalau teori tanpa praktek itu bohong.” demikian banyak kita dengar setiap orang membicarakan masalah ke 2 hal itu dalam seluruh lingkup kehidupan yang ada. Entah mau ekonomi, politik, olahraga, kesehatan, lingkungan dan masih banyak lagi hal-hal yang sewajarnya dapat kita raih manfaat dengan membuat teori dan praktek menjadi padu tetapi malah dipisahkan seperti itu. Lalu bagaimana?

Ada seseorang mengatakan, “bagaimana jika kita menjadikan praktek yang besar, sukses, membawa manfaat kemudian praktek itu dituliskan dalam bentuk teori, tidak salah kan? akhirnya teori dan praktek bisa berkesinambungan nantinya.” Hm… dicoba saja. Oia, ini hanyalah tulisan refleksi diri. Hehehe, agar tidak terlalu sering berteori dan tidak terlalu sering praktek tanpa ilmunya, daripada dianggap ngibul atau malah sesat. hehehe.

10 Responses to Teori dan Praktek itu Berkesinambungan
  1. Alam says:

    setubuh mas.. banyak orang yang pintar dan menguasai teori, tapi sedikit orang yang “take action”. Tapi aku pikir-pikir “mereka” memang pekerjaannya cuma omonga doang deh, dibayar lagi, pake uang rakyat lagi..

  2. dHaNy says:

    Teori hanya beberapa persen saja, lainnya adalah praktek… Jam terbang adalah kunci utamanya bukan gelar akademis…

  3. dery says:

    praktek harus didasarkan dengan teori mas.. begitu pula sebaliknya..
    teori juga bisa salah,, ketika sudah dibuktikan dengan praktek..
    contohnya, teori, anda bisa berjalan di udara.. tapi prakteknya sama sekali tidak..
    (* contohnya gak mutu mas.. :mrgreen: )

  4. bayuputra says:

    Setuju sekali pak,
    kalau seperti didalam proses belajar mengajar di sekolah, jika hanya di penuhi dengan materi saja sepertinya tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal jika tidak dibarengi dengan praktik.

  5. BP-BIO says:

    Selamat sore Pak.
    lebih banyak praktik sepertinya lebih baik pak, 30% teori dan 70% praktik.

  6. Agus Siswoyo says:

    Terus… kalau sudah dipraktekkan, perlu diketahui juga hasilnya untuk kepentingan siapa? :)

  7. Jamal Rahmat says:

    Teori tanpa praktek itu namanya sia-sia tapi praktek tanpa tahu teorinya itu namanya ngaco

  8. koeshariatmo says:

    kalau di dunia pendidikan di terapkan antara teori dan praktek yang berkesinambungan saya yakin semakin banyak tenaga ahli yang akan menyumbangkan karyanya untuk bangsa ini.
    Namun itu semua akan terwujud bila faktor budipekerti ditanamkan sejak dini.

  9. Bagaimana bila Sebuah Praktek untuk menghasilkan sebuah teori? Mungkinkah? Learning by Doing kan pada intinya memperoleh Teori melalui Praktek :)